Belakangan lagi rame permasalahan penggunaan AI di dalam video game. Sebenernya masalahnya simpel, tapi sama beberapa orang di internet, apalagi yang benci sama AI itu dibesar-besarkan. Masalah ini bermula semenjak kemenangan Clair Obscur: Expedition 33 menang Game of the year. Orang yang ga suka sama game itu, karena menang banyak di the game awards nyari-nyari celah buat ngejatuhin gamenya.
Awalnya mereka cuma nghujat soal ngecompare sama game lain aja, tapi beberapa hari belakangan muncul masalah baru, yaitu penggunaan AI. Ini bermula ketika developer Larian mengumumkan kalau mereka menggunakan generative AI di dalam gamenya nanti. Dan diikuti oleh developer dari Clair Obscur juga mengumumkan mereka juga menggunakan AI tapi hanya dalam porsi kecil. Dan ini menjadi perbincangan besar netizen di twitter/x.
Melihat celah itu, para pembenci game Clair Obscur berbondong-bondong mengungkit masalah ini, seolah-olah game ini sepenuhnya menggunakan AI. Tapi, yang lucu adalah ternyata mereka menggunakan AI untuk membuat poster-poster atau hal-hal kecil lainnya. Dan tidak hanya itu, penggunaan AI itu mereka gunakan untuk masa percobaan, dan mereka dengan cepat langsung menggantinya dengan apa yang mereka sudah punya sebelum mencoba menggunakan AI. Tapi orang-orang di internet masih ga peduli dan masih nyerang game ini.
Memang, sisa sisa dari poster AI itu masih bisa ditemukan di dalam game, tapi itu bukanlah hal yang disengaja, karena mereka sudah melakukan quality assurance/QA, namun beberapa asetnya masih tertinggal.
Sampai pada akhirnya, game Clair Obscur didiskualifikasi oleh suatu penghargaan karena melanggar ketentuan-ketentuan dari penyelenggara. Apa ketentuannya? Yaitu gamenya saat di develop sama sekali tidak menggunakan AI. Pihak Clair Obscur akhirnya membuka suara terkait hal ini, dan membeberkan bahwa penggunaan AI itu dilakukan pada tahun 2022, dimana perkembangan AI baru dimulai di industri game, dan akhirnya mereka mencoba hal yang disebutkan di atas tadi, dan memang hanya dalam beberapa hari langsung diganti dengan buatan manusia.
Uniknya, kebanyakan dari hujatan yang datang justru dari kalangan artist digital. Meski begitu, beberapa kalangan gamers memang cukup banyak juga yang membenci AI, salah satunya gw sendiri. Tapi gw masih punya batasan tertentu, kalo emang 100% buatan AI ya gw ga suka sama game itu, apalagi harus ngeluarin duit buat mainin. Kalo sekedar kayak kasus di atas si gw masih ga masalah.
Terus muncul berbagai macam pendapat dan pertanyaan di dalam kepala gw, apa bener nantinya industri gaming ini bakal dikuasai oleh AI? Apa kita bisa nikmaitn game lagi?
Belakangan udah muncul beberapa game yang pake VA dari AI, salah satu yang terkenal Arc Raider dan Assassin's Creed Shadow. Meskipun di Arc Raider tidak begitu berpengaruh karena player bisa menggunakan voice chat, tetapi AC Shadows, VA itu dipakai sebagai dialog, alhasil kayak ngomong sama orang mati, ga ada rasa, intonasi datar, yah kalian tau sendiri lah.
Tidak dipungkiri, menggunakan AI memang lebih efisien dalam waktu pengerjaan. Tapi, sekarang ini memang masih banyak kekurangannya, dan kita ga tahu gimana perkembangannya nanti di masa depan. Kalo memang AI bakal menguasai industri game, beberapa jenis pekerjaan mungkin akan hilang untuk mengisi peran di dalam video game. Bisa jadi itu musik, script writer, dan yang pasti bakal hilang adalah Voice Actor/VA.
Apa kalian siap untuk pergeseran ini? Atau tidak begitu peduli sama sekali, selama game itu bisa dimainkan dan menyenangkan?
Comments
Post a Comment